1,99 €
1,99 €
inkl. MwSt.
Sofort per Download lieferbar
payback
0 °P sammeln
1,99 €
1,99 €
inkl. MwSt.
Sofort per Download lieferbar

Alle Infos zum eBook verschenken
payback
0 °P sammeln
Als Download kaufen
1,99 €
inkl. MwSt.
Sofort per Download lieferbar
payback
0 °P sammeln
Jetzt verschenken
1,99 €
inkl. MwSt.
Sofort per Download lieferbar

Alle Infos zum eBook verschenken
payback
0 °P sammeln
  • Format: ePub

This is a Javanese novel, which is a sequel to the novel "Ati Dudu Watu" by the same author. If in the previous sequel the main plot centered on KRT Nindya Kusuma and his daughter-in-law Sulistyaningsih, in this sequel to Mekaring Kembang Tresna the story centers on Raditya, the only blood grandson of Eyang Nindya, who is predicted to be the successor to the family tree. Although Raditya chose to live with his maternal grandparents in the hamlet of Cangkringan, Sleman. But Eyang Nindya and Sulistyaningsih did not feel lonely. Because the family of Mr. Parja, the driver and servant of the…mehr

  • Geräte: eReader
  • mit Kopierschutz
  • eBook Hilfe
  • Größe: 0.31MB
  • FamilySharing(5)
Produktbeschreibung
This is a Javanese novel, which is a sequel to the novel "Ati Dudu Watu" by the same author. If in the previous sequel the main plot centered on KRT Nindya Kusuma and his daughter-in-law Sulistyaningsih, in this sequel to Mekaring Kembang Tresna the story centers on Raditya, the only blood grandson of Eyang Nindya, who is predicted to be the successor to the family tree. Although Raditya chose to live with his maternal grandparents in the hamlet of Cangkringan, Sleman. But Eyang Nindya and Sulistyaningsih did not feel lonely. Because the family of Mr. Parja, the driver and servant of the family, had been embraced like their own extended family. Both of Mr. Parja's children were funded to go to college until they got married, and Eyang Nindya even built a house for Mr. Parja's two sons and daughters behind and next to Eyang Nindya's own house. The birth of Mentari, Mr. Parja's granddaughter, also became a substitute happiness for Raditya's existence for Sulistyaningsih. Raditya has grown up and knows love. He is dating his junior at the Faculty of Economics, UGM. Miranti, a lively and easy-going girl from Karangmojo, Gunungkidul, is in a cheerful love affair with Raditya, a quiet blue blood. Their relationship has even entered the engagement stage. However, who knows where the flow of life will lead. At this engagement status, Miranti actually slipped into excessive socializing with other men until she became pregnant.

In the midst of Raditya's disappointment, Mentari received a WhatsApp message from Miranti which caused confusion as well as happiness for Mentari, Sulistyaningsih and even the entire extended family of Eyang Nidnya Kusuma.***

[Indonesian]. Ini adalah novel berbahasa Jawa, yang merupakan kisah lanjutan dari novel "Ati Dudu Watu" oleh penulis yang sama. Jika di dalam sekuel sebelumnya alur utama berpusat pada KRT Nindya Kusuma dan Sulistyaningsih menantunya, pada sekuel Mekaring Kembang Tresna ini kisah berpusat pada Raditya, satu-satunya cucu darah Eyang Nindya, yang digadang menjadi penerus silsilah keluarga. Meski Raditya memilih tinggal bersama Kakek Nenek dari garis ibu di dusun wilayah Cangkringan, Sleman. Tetapi Eyang Nindya dan Sulistyaningsih tidak merasa kesepian. Sebab keluarga pak Parja sopir dan abdi keluarga itu telah direngkuh seperti keluarga besarnya sendiri. Kedua anak Pak Parja, dibiayai kuliah hingga menikah bahkan Eyang Nindya membuatkan rumah untuk kedua putra putri pak Parja di belakang dan sebelah rumah eyang Nindya sendiri. Lahirnya Mentari, cucu pak Parja juga menjadi hiburan pengganti keberadaan Raditya bagi Sulistyaningsih.

Raditya telah tumbuh dewasa dan mengenal cinta. Ia berpacaran dengan adik kelasnya di Fakultas Ekonomi UGM. Miranti, gadis lincah dan easy going dari Karangmojo, Gunungkidul ini menjalin cinta ceria bersam Raditya, si darah biru yang pendiam. Bahkan hubungan pacaran mereka telah memasuki jenjang pertunangan. Namun, siapa yang tahu ke mana arah alur kehidupan. Di saat status pertunangan ini, Miranti justru terpeleset dalam pergaulan yang berlebih dengan laki-laki lain hingga mengandung.

Di tengah rasa kecewa di hati Raditya, Mentari menerima pesan whatsapp dari Miranti yang menimbulkan kebingungan sekaligus kebahagiaan bagi Mentari, Sulistyaningsih bahkan seluruh keluarga besar Eyang Nidnya Kusuma.


Dieser Download kann aus rechtlichen Gründen nur mit Rechnungsadresse in A, B, CY, CZ, D, DK, EW, E, FIN, F, GR, H, IRL, I, LT, L, LR, M, NL, PL, P, R, S, SLO, SK ausgeliefert werden.


Hinweis: Dieser Artikel kann nur an eine deutsche Lieferadresse ausgeliefert werden.
Autorenporträt
Bambang Saparyono, lahir di Sleman, 6 Oktober 1957. Alumni Fakultas Farmasi UGM (83) dan Magister Manajemen Pelayanan Kesehatan Dasar dari Mahidol University, Thailand (1993). Mengabdi di Kementerian Kesehatan (sampai 2000) dan Pemerintah Kota Yogyakarta (hingga 2013). Bambang juga pernah bekerja sebagai dosen tidak tetap di beberapa lembaga pendidikan kesehatan. Selepas pensiun beberapa waktu, Bambang kembali menyibukkan diri dengan mengabdikan dirinya sebagai abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta.

Rasa cintanya pada budaya dan bahasa Jawa mendorongnya untuk menulis dalam bahasa Jawa terutama melelui media sosial. Ia menulis berbagai bentuk karya baik geguritan maupun gancaran (prosa) berbahasa Jawa. Ati Dudu Watu adalah novel Jawa pertama yang ia terbitkan.